UNIVERSITAS
GUNADARMA
PROGRAM
DIII BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN
EKONOMI
MONETER
Peranan
Uang Dalam Perekonomian

Disusun oleh:
Kurniawan Muhammad
Arrifin (53217257)
Roby Setiyo
Pambudi (55217385)
3DF02
BEKASI
2020
A.
Apa
Itu Uang?
Uang telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu dan
merupakan salah satu penemuan manusia yang paling menakjubkan. Uang juga
mempunyai sejarah yang sangat panjang dan telah mengalami perubahan yang sangat
besar sejak dikenal manusia. Dengan kondisi tersebut, memang tidak mudah untuk
menjelaskan atau mendefinisikan uang secara singkat, jelas dan tepat. Namun,
anehnya, dalam masyarakat moderen saat ini tidak ada orang yang tidak mengenal
uang. Besar/kecil, tua/muda dan kaya/miskin sejak bangun tidur sampai kembali
tidur, semuanya tidak dapat melepaskan diri dari benda yang satu ini: uang.
Apa
sebenarnya benda yang disebut uang itu? Secara sekilas, jawaban atas pertanyaan
tersebut dapat diberikan dengan mudah; orang awam akan dapat menunjukkan uang
pecahan kertas atau logam yang berlaku yang dipegangnya sebagai uang. Namun,
apakah mereka juga mempunyai anggapan yang sama terhadap uang pecahan kertas
atau logam dari daerah atau negara lain? Mungkin saja tidak. Mereka mungkin
lebih yakin atau senang untuk memegang uang yang barasal dari daerahnya sendiri
dibandingkan dengan uang yang berasal dari daerah lain. Pertanyaan yang muncul
selanjutnya adalah: mengapa orang tersebut lebih memilih benda seperti kertas
dan logam di atas sebagai uang, bukan benda lainnya, misalnya kulit binatang
atau lempengan besi?
Dari
uraian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa ternyata sangatlah sulit atau
hampir mustahil untuk mendefinisikan uang baik menurut bentuk fisik maupun
ciri-cirinya karena bentuk fisik dan ciri-ciri uang begitu bervariasi,
tergantung pada waktu dan tempat penggunaannya. Dengan demikian, untuk
mempermudah dan menyederhanakan pemahamannya, uang dilihat sebagaimana uang
yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dilihat dari kegunaan atau
fungsinya bagi manusia. Dengan kata lain, uang dipahami dari apa yang dapat
dilakukan oleh manusia dengan uang tersebut.
Uang
adalah seperti yang kita bayangkan, yaitu suatu benda yang dapat ditukarkan
dengan benda lain, dapat digunakan untuk menilai benda lain, dan dapat kita
simpan. Selanjutnya, jangan lupa bahwa uang dapat juga digunakan untuk membayar
utang di waktu yang akan datang. Dengan kata lain, uang adalah suatu benda yang
pada dasarnya dapat berfungsi sebagai: (1) alat tukar (medium of exchange),
(2) alat penyimpan nilai (store
of value), (3) satuan hitung (unit of account), dan (4) ukuran pembayaran yang tertunda (standard for deffered payment).
Perlu dikemukakan pula bahwa pada awalnya uang hanya berfungsi sebagai alat
penukar saja tetapi, sejalan dengan perkembangan peradaban manusia dalam
memenuhi kebutuhan ekonominya, fungsi tersebut telah berkembang dan bertambah
sehingga mempunyai fungsi seperti uang pada saat ini. Di bawah ini akan
diuraikan secara singkat keempat fungsi dasar uang yang telah disampaikan di
atas.
Uang
sebagai alat tukar.
Dapat dibayangkan betapa sulitnya hidup dalam perekonomian moderen ini tanpa
adanya benda yang dapat digunakan sebagai alat penukar. Apabila tidak ada uang
maka transaksi hanya dilakukan dengan cara tukar-menukar antara barang yang
satu dengan barang yang lain. Misalnya, seseorang yang memiliki ayam dan ingin
menukarkannya dengan garam – karena ia mempunyai ayam yang banyak dan sangat
membutuhkan garam – harus bertemu dengan orang lain yang memiliki garam dan
ingin menukarkan garam dengan ayam. Selanjutnya, mereka saling menukarkan ayam
dengan garam. Kondisi ini dinilai terlalu kaku dan sulit dipenuhi. Dengan
adanya uang, seseorang dapat secara langsung menukarkan uang tersebut dengan
barang yang dibutuhkannya kepada orang lain yang menghasilkan barang tersebut.
Uang sebagai alat
penyimpan nilai. Sesuai dengan sifatnya,
manusia adalah mahluk yang gemar mengumpulkan dan menyimpan kekayaan dalam
bentuk barang-barang yang berharga untuk dipergunakan di masa yang akan datang.
Barang-barang berharga tersebut pada umumnya berupa tanah, rumah dan benda
berharga lain. Walaupun kekayaan yang dapat disimpan beragam bentuknya, tidak
dapat dipungkiri bahwa uang merupakan salah satu pilihan untuk menyimpan
kekayaan.
Uang sebagai satuan
hitung. Apabila tidak ada satuan hitung yang
diperankan oleh uang, dapat dibayangkan kesulitan dalam melakukan penilaian
terhadap suatu barang. Tanpa satuan hitung seseorang mungkin akan menilai
seekor sapi sama dengan dua ekor kambing dsb. Dengan adanya uang, tukar-menukar
dan penilaian terhadap suatu barang akan lebih mudah dilakukan. Selain itu,
dengan uang pertukaran antara dua barang yang berbeda secara fisik juga dapat
dilakukan.
Uang sebagai ukuran
pembayaran yang tertunda. Fungsi uang ini terkait
dengan transaksi pinjam-meminjam; uang merupakan salah satu cara untuk
menghitung jumlah pembayaran pinjaman tersebut. Lebih masuk akal untuk
meminjamkan uang sebesar satu juta rupiah selama lima tahun daripada
meminjamkan satu ekor kambing dalam waktu yang sama mengingat keadaan kambing
dalam lima tahun mendatang akan berbeda dengan keadaan kambing semula.
B.
Penciptaan Uang
Penciptaan
uang adalah proses
memproduksi atau menghasilkan uang baru. Terdapat tiga cara untuk menciptakan
uang; pertama dengan cara mencetak mata uang kertas atau uang logam, kedua melalui
pengadaan utang dan pinjaman serta
ketiga melalui beragam kebijakan pemerintah, misalnya seperti pelonggaran kuantitatif. Berbagai praktik dan regulasi untuk mengatur produksi, pengeluaran
dan penarikanan uang, adalah perhatian utama dalam ilmu ekonomi moneter
(misalnya tentang persediaan
uang, mazhab monetarisme) dan memengaruhi berjalannya pasar keuangan dan
daya beli uang.
Bank sentral bertanggung-jawab mengukur jumlah uang beredar yang menunjukkan
banyaknya uang yang ada pada suatu waktu tertentu. Jumlah uang baru yang tidak
diketahui penciptaannya dapat ditunjukkan dengan cara membandingkan
pengukuran-pengukuran tersebut pada waktu-waktu yang berbeda.
Perusakan atas mata uang dapat terjadi apabila uang logam dileburkan
untuk mendapatkan kembali kandungan logam mulianya. Tindakan ini memperoleh
insentif bila ternyata nilai logam yang didapat melebihi nilai nominal uang
logam atau ketika pencetaknya menarik kembali jaminan atas keamanannya.
Ø Penciptaan Uang Oleh Bank Umum
Bank
umum memiliki kedudukan yang khusus dalam sistem moneter karena bank umum
mempunyai kemampuan untuk menciptakan uang dalam bentuk uang giral dan uang
kuasi.
Penciptaan uang giral dan uang
kuasi tersebut secara umum dapat melalui beberapa cara sebagai berikut.
(i)
Substitusi, melalui
proses substitusi ini seseorang dapat menyetorkan uang kartal ke bank umum
untuk dimasukkan ke dalam simpanan giro, simpanan tabungan atau sebagai
deposito.
(ii)
Transformasi, melalui
proses transformasi ini bank umum dapat membeli surat-surat berharga dan
kemudian membukukan surat-surat berharga yang dibeli ke dalam simpanan giro
atas nama yang bersangkutan atau membukukan ke dalam simpanan tabungan atau
deposito.
(iii) Pemberian kredit, melalui
proses ini bank-bank umum dapat memberikan kredit kepada nasabahnya dan
membukukan kredit tersebut ke rekening giro atas nama debitur yang menerima
kredit tersebut.
Perlu
diketahui bahwa dalam proses substitusi dan transformasi terdapat kemungkinan
terjadinya perpindahan bentuk dari uang giral ke uang kuasi melalui
pemindahbukuan. Hal tersebut dapat terjadi karena dalam praktik suku bunga
deposito berjangka pada umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan jasa
giro. Namun, pergeseran tersebut
tergantung pada daya tarik simpanan dalam bentuk tabungan atau deposito
berjangka dibandingkan dengan simpanan dalam bentuk giro. Sementara itu, dalam
proses pemberian kredit pada umumnya tidak dibukukan sebagai tabungan atau
deposito karena, pada umumnya, suku bunga pinjaman lebih tinggi dibandingkan
dengan suku bunga tabungan atau deposito.
C. Peranan Uang
Ø
Uang
Dan Kegiatan Ekonomi
Pada dasarnya, peranan dan
keterkaitan yang erat antara uang dengan kegiatan suatu perekonomian dapat
dianggap sebagai suatu hal yang bersifat alami karena semua kegiatan
perekonomian moderen, misalnya produksi, investasi dan konsumsi, selalu
melibatkan uang. Bahkan, dalam perkembangannya uang tidak hanya digunakan untuk
mempermudah transaksi perdagangan di pasar barang namun uang itu sendiri juga
menjadi suatu komoditas yang dapat diperdagangkan di pasar uang. Dengan kondisi
tersebut, sangatlah sulit dibayangkan apabila tidak ada benda yang namanya
uang.
Bagaimana melihat peranan
uang seperti yang telah dipaparkan di atas? Salah satu cara adalah dengan
memahami bagaimana aliran atau arus perputaran barang dan uang terjadi dalam
suatu perekonomian. Perlu diketahui bahwa perkembangan kegiatan suatu
perekonomian pada dasarnya dapat diamati dari dua sektor yang saling berkaitan,
yaitu sektor riil (barang dan jasa) dan sektor moneter (uang). Sektor riil dan
sektor moneter tidak hanya berkaitan erat, kedua sektor tersebut bahkan seperti
dua sisi dari satu mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Secara teoritis,
sektor yang satu merupakan cerminan dari sektor lainnya. Sebagai contoh, dalam
suatu transaksi jual-beli akan terdapat penjual yang memiliki barang dan
pembeli yang memiliki uang. Pembeli
memiliki uang tetapi membutuhkan barang, sementara penjual memiliki
barang tetapi membutuhkan uang. Dengan demikian, apabila transaksi tersebut
dilakukan maka nilai transaksi jual-beli barang dan jasa harus sama dengan
nilai uang yang diserahterimakan.
Ilustrasi sederhana
mengenai aliran atau arus perputaran barang dan uang terjadi dalam suatu
perekonomian dapat dijelaskan sebagai berikut. Sesuai dengan fungsi uang
sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama, dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat membutuhkan uang untuk memperlancar kegiatan ekonominya baik berupa
kegiatan produksi, investasi, maupun konsumsi. Sebagaimana diketahui, dalam
setiap kegiatan ekonomi tersebut selalu terdapat dua macam aliran, yaitu aliran
barang dan aliran uang atau dana. Sebagai contoh, dalam suatu kegiatan
produksi, untuk menghasilkan suatu produk perusahaan membutuhkan input, misalnya berupa bahan baku dan tenaga kerja. Dalam proses
tersebut perusahaan akan membeli bahan baku dan menyewa tenaga (keahlian) dari
masyarakat sehingga akan terjadi aliran barang dan jasa berupa bahan baku dan
tenaga kerja dari masyarakat. Pada saat yang sama juga terjadi aliran uang dari
perusahaan untuk pembayaran bahan baku yang dibeli tersebut. Aliran uang keluar
tersebut bagi perusahaan akan menjadi pos biaya, sementara bagi masyarakat,
aliran uang masuk tersebut merupakan pos pendapatan. Sementara itu, setelah
perusahaan menghasilkan suatu produk dan menjualnya ke masyarakat akan terjadi
aliran uang keluar dari masyarakat dan sebaliknya terjadi aliran uang masuk
yang merupakan pendapatan perusahan. Mekanisme yang serupa juga terjadi pada
kegiatan investasi dan kegiatan ekonomi lainnya. Berdasarkan contoh tersebut,
dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perekonomian aliran uang akan sebanding
dengan aliran barang dan jasa.
Ø Uang dan suku bunga
Mekanisme penciptaan uang,
yaitu bahwa penciptaan uang beredar pada dasarnya ditentukan atau dipengaruhi oleh
otoritas moneter, bank umum dan masyarakat. Jumlah uang beredar yang tercipta
tersebut merupakan jumlah uang yang ditinjau dari penyediaannya atau sisi penawaran. Sementara itu, dari sisi permintaan, masyarakat membutuhkan
uang, baik uang kartal, uang giral, maupun uang kuasi untuk membiayai semua
kegiatan ekonominya. Idealnya, jumlah uang yang tercipta atau tersedia harus
seimbang jumlah uang yang dibutuhkan atau diminta oleh masyarakat sehingga
tidak terdapat kelebihan atau kekurangan jumlah uang yang beredar. Dalam
praktik, permintaan masyarakat akan uang sulit diperhitungkan mengingat
kebutuhan masyarakat akan uang tersebut tidak hanya dilandasi oleh motif untuk
melakukan transaksi saja namun juga motif lainnya, yaitu untuk berjaga-jaga
atau bahkan untuk melakukan kegiatan yang sifatnya spekulatif.
Sesuai dengan hukum permintaan pasar, apabila jumlah uang
yang disediakan melebihi jumlah uang yang diminta maka akan terjadi kelebihan
penyediaan uang yang pada akhirnya dapat mengakibatkan penurunan harga uang
atau suku bunga. Sebaliknya, apabila jumlah uang yang diminta melebihi jumlah
uang yang disediakan maka akan dapat mengakibatkan kenaikan harga uang atau
suku bunga. Perlu dikemukakan bahwa suku bunga yang dimaksud adalah suku bunga
keseimbangan pasar, yiatu suku bunga yang mencerminkan kesesuaian antara suku
bunga simpanan (sisi penawaran uang) dan suku bunga pinjaman (sisi permintaan
uang).
Dari hubungan di atas dapat dipahami bahwa perubahan suku
bunga dapat terjadi sebagai akibat adanya perubahan jumlah uang beredar yang
mencerminkan interaksi antara sisi permintaan dan sisi penawaran. Bagaimana
hubungan antara uang dan suku bunga yang terjadi pada perekonomian Indonesia?
Dalam rangka mengatur jumlah uang yang beredar, Bank
Indonesia dapat mempengaruhi suku bunga SBI yang ditetapkan dalam rangka
operasi pasar terbuka oleh Bank Indonesia.
Ø Uang Dan Kegiatan Ekonomi Sektor Riil
Masyarakat pada umumnya membutuhkan uang atau dana untuk
membiayai kegiatan ekonominya di sektor riil, seperti produksi, investasi dan
konsumsi. Lalu, apa yang terjadi apabila jumlah uang yang tersedia sangat
terbatas sehingga tidak dapat membiayai kegiatan ekonomi tersebut sepenuhnya?
Atau sebaliknya, apa yang terjadi apabila jumlah uang yang tersedia begitu
melimpah, sementara kegiatan ekonomi relatif kecil untuk dibiayai? Pertanyaan
tersebut pada dasarnya mengarah pada pemahaman bahwa terdapat keterkaitan yang
erat antara uang dan kegiatan ekonomi di sektor riil. Pengaruh uang terhadap
kegiatan ekonomi di sektor riil pada dasarnya dapat bersifat langsung atau
tidak langsung. Pengaruh tidak langsung uang dapat dijelaskan melalui
pengaruhnya terhadap perkembangan suku bunga seperti telah dijelaskan pada
bagian sebelumnya. Dalam hal ini, apabila terjadi penambahan jumlah uang
beredar (misalnya sebagai akibat kebijakan bank sentral) maka suku bunga akan
cenderung turun. Penurunan suku bunga tersebut akan menurunkan biaya pendanaan
kegiatan investasi yang selanjutnya mendorong kegiatan investasi dan kegiatan
ekonomi pada umumya.
Ø Uang Dan Harga
Pada bagian-bagian terdahulu telah dibahas keterkaitan uang
dengan suku bunga dan keterkaitan uang dengan kegiatan ekonomi sektor riil.
Keterkaitan uang dengan kedua variabel tersebut pada dasarnya menunjukkan
peranan uang dalam mempengaruhi perkembangan kegiatan ekonomi secara
keseluruhan yang tercermin pada perkembangan permintaan agregat (aggregate demand) masyarakat akan semua barang dan
jasa yang diproduksi dalam perekonomian. Kegiatan produksi untuk menghasilkan
barang dan jasa tersebut tentunya harus didukung oleh kapasitas ekonomi, yaitu suatu kondisi yang
mencerminkan ketersediaan sumber daya yang mencukupi, seperti bahan baku,
tenaga kerja dan teknologi. Dalam ilmu ekonomi makro, kondisi ini dikenal
dengan penyediaan atau penawaran agregat (aggregate supply). Berbeda dengan
permintaan agregat yang dapat berubah dalam jangka pendek, penawaran agregat
relatif lebih sulit untuk berubah dalam jangka pendek. Dalam kaitan ini,
perubahan penawaran agregat lebih terkait dengan struktur dan perkembangan suatu perekonomian.
Idealnya, permintaan agregat harus sama dengan penawaran
agregat. Bagaimana apabila tidak? Apabila permintaan agregat tidak sama dengan
penawaran agregat maka diperlukan penyesuaian kegiatan ekonomi agar terjadi
kesesuaian (keseimbangan) yang pada akhirnya dapat mengakibatkan perubahan
harga barang dan jasa. Dalam hal ini, peningkatan permintaan agregat yang
melebihi penawaran agregat akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Dengan demikian, mengingat perubahan jumlah uang beredar
dapat mempengaruhi perkembangan permintaan agregat, dapat disimpulkan bahwa
perubahan jumlah uang beredar dapat mempengaruhi perkembangan harga. Hal ini
juga berarti bahwa kecenderungan kenaikan harga umum secara terus-menerus (inflasi) dapat terjadi apabila penambahan jumlah uang beredar
melebihi kebutuhan yang sebenarnya. Dapat dinyatakan secara sederhana bahwa:
“jumlah uang beredar bertambah, harga barang-barang naik”. Dalam kasus ini,
mengingat inflasi sangat dipengaruhi oleh perkembangan uang beredar maka inflasi dikenal sebagai fenomena moneter.
Dalam kasus lain, inflasi yang tinggi dapat berlangsung dalam
waktu yang lama walaupun perkembangan jumlah uang beredar relatif rendah.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Strukturalis yang menyatakan bahwa
inflasi dalam jangka panjang lebih disebabkan oleh adanya kekakuan
(ketidakelastisan) struktur perekonomian di negara berkembang, terutama pada
struktur penerimaan ekspor dan produksi bahan makanan dalam negeri. Dengan
demikian, tekanan inflasi akan muncul apabila pertumbuhan sektor ekspor sangat
lamban dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya atau pun produksi bahan
makanan dalam negeri kurang memadai. Pendapat tersebut menempatkan inflasi
sebagai fenomena structural.
D.
Pengendalian Jumlah Uang
Beredar
Pengendalian jumlah uang beredar pada hakikatnya merupakan salah satu
bagian dari kerangka kebijakan moneter yang dilaksanakan oleh otoritas moneter.
Dalam hal ini, sesuai dengan tujuan kebijakan moneter, pengendalian jumlah uang
beredar pada umumnya ditujukan untuk menjaga kestabilan nilai uang dan
mendorong kegiatan ekonomi. Yang dimaksud dengan pengendalian di sini adalah
upaya otoritas moneter baik untuk menambah jumlah uang yang beredar (kebijakan
ekspansi moneter) maupun mengurangi jumlah uang yang beredar (kebijakan
kontraksi moneter). Pengendalian jumlah uang beredar tersebut juga mempunyai
peranan yang sangat strategis dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. Hal ini
disebabkan oleh keterkaitan yang erat antara uang dengan variabelvariable
ekonomi lainnya, seperti suku bunga, output dan harga. Dengan
mengendalikan jumlah uang beredar tersebut, otoritas moneter akan dapat
mempengaruhi nilai uang sedemikian rupa sehingga perkembangannya akan mampu
mendorong perekonomian ke arah yang diinginkan sesuai dengan sasaran akhir yang
ditetapkan, seperti inflasi yang rendah dan atau pertumbuhan ekonomi yang
tinggi.
Bagaimana dengan pengendalian jumlah uang beredar di Indonesia? Sesuai
dengan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indonesia merupakan otoritas
moneter yang mempunyai tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter,
antara lain dengan mengendalikan jumlah uang beredar. Dalam pada itu,
pengendalian jumlah uang beredar dianggap cukup relevan, khususnya apabila
dikaitkan dengan arah baru penerapan kebijakan moneter di Indonesia yang
menekankan pada pencapaian sasaran tunggal, yaitu kestabilan nilai rupiah
(harga).
Sesuai dengan salah satu aspek dalam paradigma kebijakan moneter yang
dianut saat ini, yaitu pencapaian target kuantitas, melalui pengendalian
jumlah uang beredar kebijakan moneter oleh Bank Indonesia diarahkan untuk
mempengaruhi kegiatan perekonomian agar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan,
yaitu tercapainya kestabilan harga. Dalam pelaksanaannya, pengendalian tersebut
tidak dapat dilakukan secara langsung mengingat perkembangan uang beredar
sangat terkait dengan perilaku pelaku ekonomi lainnya, yaitu perbankan dan
masyarakat. Dalam hal ini, yang dapat dilakukan oleh Bank Indonesia ialah
pengendalian jumlah uang primer. Pengendalian jumlah uang primer tersebut
dilakukan dengan mengasumsikan bahwa perilaku angka pelipat ganda uang (money multiplier) cukup stabil. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa dengan mengendalikan jumlah uang primer, Bank Indonesia
mengendalikan jumlah uang beredar sehingga kegiatan ekonomi dapat diarahkan
untuk mencapai perkembangan harga yang
cukup stabil (inflasi yang rendah).
Namun, dalam praktiknya, pengendalian jumlah uang beredar yang optimal
sangatlah sulit dilakukan. Paling tidak, terdapat tiga faktor yang menyebabkan
sulitnya pengendalian jumlah uang beradar tersebut. Faktor pertama adalah adanya unsur-unsur yang bersifat kontradiktif pada
pencapaian sasaran kebijakan. Misalnya, Bank Indonesia melakukan kebijakan
ekspansi moneter untuk mendorong kegiatan ekonomi yang sedang lesu. Tindakan
ini biasanya mempunyai dampak pada meningkatnya inflasi. Sebaliknya, apabila
diambil kebijakan kontraksi moneter untuk meredam laju inflasi tersebut,
perkembangan kegiatan ekonomi diperkirakan akan terhambat. Faktor kedua adalah sulitnya
memprediksi dan mengendalikan permintaan uang masyarakat. Perilaku permintaan
uang masyarakat tergantung pada beberapa motif yang beragam. Sejalan dengan
pesatnya perkembangan dan inovasi sektor keuangan dan keterbukaan perekonomian
Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, perilaku tersebut cenderung tidak
stabil sehingga sulit untuk diprediksi dan dikendalikan. Faktor ketiga adalah sulitnya
memprediksi perilaku angka pelipat ganda uang. Sebagaimana perkembangan
permintaan uang, perilaku angka pelipat ganda uang juga cenderung tidak stabil
sehingga sulit untuk diprediksi. Kesulitan dan tantangan yang dihadapi Bank
Indonesia dalam rangka pengendalian jumlah uang beredar di masa mendatang
diperkirakan akan semakin berat dan kompleks. Untuk itu, Bank Indonesia
senantiasa berupaya untuk menjajagi dan mengkaji beberapa kemungkinan penerapan
kerangka kerja kebijakan moneter lain yang lebih optimal dalam rangka
pencapaian sasaran akhir kebijakan moneter, yaitu stabilitas nilai rupiah.
Daftar Pustaka
Ø Budiono. Ekonomi Moneter,
edisi 3. Yogyakarta: BPFE, 1994.
Ø Jagdish Handa. Monetary Economics. London: ECAP 4EE,
2002.
Ø Suseno.
Uang Beredar, Materi Pengajaran
Interen Bank Indonesia. Jakarta, 2002.