Jumat, 10 April 2020

Peranan Uang Dalam Perekonomian


UNIVERSITAS GUNADARMA
PROGRAM DIII BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN
EKONOMI MONETER
Peranan Uang Dalam Perekonomian
 Logo Gunadarma (Universitas Gunadarma) Original - Psikolif
Disusun oleh:
Kurniawan Muhammad Arrifin (53217257)
Roby Setiyo Pambudi (55217385)
3DF02



BEKASI 2020

A.    Apa Itu Uang?
Uang telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu dan merupakan salah satu penemuan manusia yang paling menakjubkan. Uang juga mempunyai sejarah yang sangat panjang dan telah mengalami perubahan yang sangat besar sejak dikenal manusia. Dengan kondisi tersebut, memang tidak mudah untuk menjelaskan atau mendefinisikan uang secara singkat, jelas dan tepat. Namun, anehnya, dalam masyarakat moderen saat ini tidak ada orang yang tidak mengenal uang. Besar/kecil, tua/muda dan kaya/miskin sejak bangun tidur sampai kembali tidur, semuanya tidak dapat melepaskan diri dari benda yang satu ini: uang.
Apa sebenarnya benda yang disebut uang itu? Secara sekilas, jawaban atas pertanyaan tersebut dapat diberikan dengan mudah; orang awam akan dapat menunjukkan uang pecahan kertas atau logam yang berlaku yang dipegangnya sebagai uang. Namun, apakah mereka juga mempunyai anggapan yang sama terhadap uang pecahan kertas atau logam dari daerah atau negara lain? Mungkin saja tidak. Mereka mungkin lebih yakin atau senang untuk memegang uang yang barasal dari daerahnya sendiri dibandingkan dengan uang yang berasal dari daerah lain. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah: mengapa orang tersebut lebih memilih benda seperti kertas dan logam di atas sebagai uang, bukan benda lainnya, misalnya kulit binatang atau lempengan besi?
Dari uraian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa ternyata sangatlah sulit atau hampir mustahil untuk mendefinisikan uang baik menurut bentuk fisik maupun ciri-cirinya karena bentuk fisik dan ciri-ciri uang begitu bervariasi, tergantung pada waktu dan tempat penggunaannya. Dengan demikian, untuk mempermudah dan menyederhanakan pemahamannya, uang dilihat sebagaimana uang yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dilihat dari kegunaan atau fungsinya bagi manusia. Dengan kata lain, uang dipahami dari apa yang dapat dilakukan oleh manusia dengan uang tersebut.
Uang adalah seperti yang kita bayangkan, yaitu suatu benda yang dapat ditukarkan dengan benda lain, dapat digunakan untuk menilai benda lain, dan dapat kita simpan. Selanjutnya, jangan lupa bahwa uang dapat juga digunakan untuk membayar utang di waktu yang akan datang. Dengan kata lain, uang adalah suatu benda yang pada dasarnya dapat berfungsi sebagai: (1) alat tukar (medium of exchange), (2) alat penyimpan nilai (store of value), (3) satuan hitung (unit of account),  dan (4) ukuran pembayaran yang tertunda (standard for deffered payment). Perlu dikemukakan pula bahwa pada awalnya uang hanya berfungsi sebagai alat penukar saja tetapi, sejalan dengan perkembangan peradaban manusia dalam memenuhi kebutuhan ekonominya, fungsi tersebut telah berkembang dan bertambah sehingga mempunyai fungsi seperti uang pada saat ini. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat fungsi dasar uang yang telah disampaikan di atas.
Uang sebagai alat tukar. Dapat dibayangkan betapa sulitnya hidup dalam perekonomian moderen ini tanpa adanya benda yang dapat digunakan sebagai alat penukar. Apabila tidak ada uang maka transaksi hanya dilakukan dengan cara tukar-menukar antara barang yang satu dengan barang yang lain. Misalnya, seseorang yang memiliki ayam dan ingin menukarkannya dengan garam – karena ia mempunyai ayam yang banyak dan sangat membutuhkan garam – harus bertemu dengan orang lain yang memiliki garam dan ingin menukarkan garam dengan ayam. Selanjutnya, mereka saling menukarkan ayam dengan garam. Kondisi ini dinilai terlalu kaku dan sulit dipenuhi. Dengan adanya uang, seseorang dapat secara langsung menukarkan uang tersebut dengan barang yang dibutuhkannya kepada orang lain yang menghasilkan barang tersebut.
Uang sebagai alat penyimpan nilai. Sesuai dengan sifatnya, manusia adalah mahluk yang gemar mengumpulkan dan menyimpan kekayaan dalam bentuk barang-barang yang berharga untuk dipergunakan di masa yang akan datang. Barang-barang berharga tersebut pada umumnya berupa tanah, rumah dan benda berharga lain. Walaupun kekayaan yang dapat disimpan beragam bentuknya, tidak dapat dipungkiri bahwa uang merupakan salah satu pilihan untuk menyimpan kekayaan.
Uang sebagai satuan hitung. Apabila tidak ada satuan hitung yang diperankan oleh uang, dapat dibayangkan kesulitan dalam melakukan penilaian terhadap suatu barang. Tanpa satuan hitung seseorang mungkin akan menilai seekor sapi sama dengan dua ekor kambing dsb. Dengan adanya uang, tukar-menukar dan penilaian terhadap suatu barang akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, dengan uang pertukaran antara dua barang yang berbeda secara fisik juga dapat dilakukan.
Uang sebagai ukuran pembayaran yang tertunda. Fungsi uang ini terkait dengan transaksi pinjam-meminjam; uang merupakan salah satu cara untuk menghitung jumlah pembayaran pinjaman tersebut. Lebih masuk akal untuk meminjamkan uang sebesar satu juta rupiah selama lima tahun daripada meminjamkan satu ekor kambing dalam waktu yang sama mengingat keadaan kambing dalam lima tahun mendatang akan berbeda dengan keadaan kambing semula.
B.      Penciptaan Uang
Penciptaan uang adalah proses memproduksi atau menghasilkan uang baru. Terdapat tiga cara untuk menciptakan uang; pertama dengan cara mencetak mata uang kertas atau uang logam, kedua melalui pengadaan utang dan pinjaman serta ketiga melalui beragam kebijakan pemerintah, misalnya seperti pelonggaran kuantitatif. Berbagai praktik dan regulasi untuk mengatur produksi, pengeluaran dan penarikanan uang, adalah perhatian utama dalam ilmu ekonomi moneter (misalnya tentang persediaan uangmazhab monetarisme) dan memengaruhi berjalannya pasar keuangan dan daya beli uang.
Bank sentral bertanggung-jawab mengukur jumlah uang beredar yang menunjukkan banyaknya uang yang ada pada suatu waktu tertentu. Jumlah uang baru yang tidak diketahui penciptaannya dapat ditunjukkan dengan cara membandingkan pengukuran-pengukuran tersebut pada waktu-waktu yang berbeda.
Perusakan atas mata uang dapat terjadi apabila uang logam dileburkan untuk mendapatkan kembali kandungan logam mulianya. Tindakan ini memperoleh insentif bila ternyata nilai logam yang didapat melebihi nilai nominal uang logam atau ketika pencetaknya menarik kembali jaminan atas keamanannya.
Ø  Penciptaan Uang Oleh Bank Umum
      Bank umum memiliki kedudukan yang khusus dalam sistem moneter karena bank umum mempunyai kemampuan untuk menciptakan uang dalam bentuk uang giral dan uang kuasi.
Penciptaan uang giral dan uang kuasi tersebut secara umum dapat melalui beberapa cara sebagai berikut.
(i)      Substitusi, melalui proses substitusi ini seseorang dapat menyetorkan uang kartal ke bank umum untuk dimasukkan ke dalam simpanan giro, simpanan tabungan atau sebagai deposito.
(ii)    Transformasi, melalui proses transformasi ini bank umum dapat membeli surat-surat berharga dan kemudian membukukan surat-surat berharga yang dibeli ke dalam simpanan giro atas nama yang bersangkutan atau membukukan ke dalam simpanan tabungan atau deposito.
(iii)  Pemberian kredit, melalui proses ini bank-bank umum dapat memberikan kredit kepada nasabahnya dan membukukan kredit tersebut ke rekening giro atas nama debitur yang menerima kredit tersebut.

Perlu diketahui bahwa dalam proses substitusi dan transformasi terdapat kemungkinan terjadinya perpindahan bentuk dari uang giral ke uang kuasi melalui pemindahbukuan. Hal tersebut dapat terjadi karena dalam praktik suku bunga deposito berjangka pada umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan jasa giro.  Namun, pergeseran tersebut tergantung pada daya tarik simpanan dalam bentuk tabungan atau deposito berjangka dibandingkan dengan simpanan dalam bentuk giro. Sementara itu, dalam proses pemberian kredit pada umumnya tidak dibukukan sebagai tabungan atau deposito karena, pada umumnya, suku bunga pinjaman lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga tabungan atau deposito.

C.      Peranan Uang

Ø  Uang Dan Kegiatan Ekonomi
Pada dasarnya, peranan dan keterkaitan yang erat antara uang dengan kegiatan suatu perekonomian dapat dianggap sebagai suatu hal yang bersifat alami karena semua kegiatan perekonomian moderen, misalnya produksi, investasi dan konsumsi, selalu melibatkan uang. Bahkan, dalam perkembangannya uang tidak hanya digunakan untuk mempermudah transaksi perdagangan di pasar barang namun uang itu sendiri juga menjadi suatu komoditas yang dapat diperdagangkan di pasar uang. Dengan kondisi tersebut, sangatlah sulit dibayangkan apabila tidak ada benda yang namanya uang.
Bagaimana melihat peranan uang seperti yang telah dipaparkan di atas? Salah satu cara adalah dengan memahami bagaimana aliran atau arus perputaran barang dan uang terjadi dalam suatu perekonomian. Perlu diketahui bahwa perkembangan kegiatan suatu perekonomian pada dasarnya dapat diamati dari dua sektor yang saling berkaitan, yaitu sektor riil (barang dan jasa) dan sektor moneter (uang). Sektor riil dan sektor moneter tidak hanya berkaitan erat, kedua sektor tersebut bahkan seperti dua sisi dari satu mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Secara teoritis, sektor yang satu merupakan cerminan dari sektor lainnya. Sebagai contoh, dalam suatu transaksi jual-beli akan terdapat penjual yang memiliki barang dan pembeli yang memiliki uang. Pembeli  memiliki uang tetapi membutuhkan barang, sementara penjual memiliki barang tetapi membutuhkan uang. Dengan demikian, apabila transaksi tersebut dilakukan maka nilai transaksi jual-beli barang dan jasa harus sama dengan nilai uang yang diserahterimakan.
Ilustrasi sederhana mengenai aliran atau arus perputaran barang dan uang terjadi dalam suatu perekonomian dapat dijelaskan sebagai berikut. Sesuai dengan fungsi uang sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat membutuhkan uang untuk memperlancar kegiatan ekonominya baik berupa kegiatan produksi, investasi, maupun konsumsi. Sebagaimana diketahui, dalam setiap kegiatan ekonomi tersebut selalu terdapat dua macam aliran, yaitu aliran barang dan aliran uang atau dana. Sebagai contoh, dalam suatu kegiatan produksi, untuk menghasilkan suatu produk perusahaan membutuhkan input, misalnya berupa bahan baku dan tenaga kerja. Dalam proses tersebut perusahaan akan membeli bahan baku dan menyewa tenaga (keahlian) dari masyarakat sehingga akan terjadi aliran barang dan jasa berupa bahan baku dan tenaga kerja dari masyarakat. Pada saat yang sama juga terjadi aliran uang dari perusahaan untuk pembayaran bahan baku yang dibeli tersebut. Aliran uang keluar tersebut bagi perusahaan akan menjadi pos biaya, sementara bagi masyarakat, aliran uang masuk tersebut merupakan pos pendapatan. Sementara itu, setelah perusahaan menghasilkan suatu produk dan menjualnya ke masyarakat akan terjadi aliran uang keluar dari masyarakat dan sebaliknya terjadi aliran uang masuk yang merupakan pendapatan perusahan. Mekanisme yang serupa juga terjadi pada kegiatan investasi dan kegiatan ekonomi lainnya. Berdasarkan contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perekonomian aliran uang akan sebanding dengan aliran barang dan jasa.
Ø  Uang dan suku bunga
Mekanisme penciptaan uang, yaitu bahwa penciptaan uang beredar pada dasarnya ditentukan atau dipengaruhi oleh otoritas moneter, bank umum dan masyarakat. Jumlah uang beredar yang tercipta tersebut merupakan jumlah uang yang ditinjau dari penyediaannya atau sisi penawaran. Sementara itu, dari sisi permintaan, masyarakat membutuhkan uang, baik uang kartal, uang giral, maupun uang kuasi untuk membiayai semua kegiatan ekonominya. Idealnya, jumlah uang yang tercipta atau tersedia harus seimbang jumlah uang yang dibutuhkan atau diminta oleh masyarakat sehingga tidak terdapat kelebihan atau kekurangan jumlah uang yang beredar. Dalam praktik, permintaan masyarakat akan uang sulit diperhitungkan mengingat kebutuhan masyarakat akan uang tersebut tidak hanya dilandasi oleh motif untuk melakukan transaksi saja namun juga motif lainnya, yaitu untuk berjaga-jaga atau bahkan untuk melakukan kegiatan yang sifatnya spekulatif.
Sesuai dengan hukum permintaan pasar, apabila jumlah uang yang disediakan melebihi jumlah uang yang diminta maka akan terjadi kelebihan penyediaan uang yang pada akhirnya dapat mengakibatkan penurunan harga uang atau suku bunga. Sebaliknya, apabila jumlah uang yang diminta melebihi jumlah uang yang disediakan maka akan dapat mengakibatkan kenaikan harga uang atau suku bunga. Perlu dikemukakan bahwa suku bunga yang dimaksud adalah suku bunga keseimbangan pasar, yiatu suku bunga yang mencerminkan kesesuaian antara suku bunga simpanan (sisi penawaran uang) dan suku bunga pinjaman (sisi permintaan uang).
Dari hubungan di atas dapat dipahami bahwa perubahan suku bunga dapat terjadi sebagai akibat adanya perubahan jumlah uang beredar yang mencerminkan interaksi antara sisi permintaan dan sisi penawaran. Bagaimana hubungan antara uang dan suku bunga yang terjadi pada perekonomian Indonesia?
Dalam rangka mengatur jumlah uang yang beredar, Bank Indonesia dapat mempengaruhi suku bunga SBI yang ditetapkan dalam rangka operasi pasar terbuka oleh Bank Indonesia.
Ø  Uang Dan Kegiatan Ekonomi Sektor Riil
Masyarakat pada umumnya membutuhkan uang atau dana untuk membiayai kegiatan ekonominya di sektor riil, seperti produksi, investasi dan konsumsi. Lalu, apa yang terjadi apabila jumlah uang yang tersedia sangat terbatas sehingga tidak dapat membiayai kegiatan ekonomi tersebut sepenuhnya? Atau sebaliknya, apa yang terjadi apabila jumlah uang yang tersedia begitu melimpah, sementara kegiatan ekonomi relatif kecil untuk dibiayai? Pertanyaan tersebut pada dasarnya mengarah pada pemahaman bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara uang dan kegiatan ekonomi di sektor riil. Pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi di sektor riil pada dasarnya dapat bersifat langsung atau tidak langsung. Pengaruh tidak langsung uang dapat dijelaskan melalui pengaruhnya terhadap perkembangan suku bunga seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Dalam hal ini, apabila terjadi penambahan jumlah uang beredar (misalnya sebagai akibat kebijakan bank sentral) maka suku bunga akan cenderung turun. Penurunan suku bunga tersebut akan menurunkan biaya pendanaan kegiatan investasi yang selanjutnya mendorong kegiatan investasi dan kegiatan ekonomi pada umumya.
Ø  Uang Dan Harga
Pada bagian-bagian terdahulu telah dibahas keterkaitan uang dengan suku bunga dan keterkaitan uang dengan kegiatan ekonomi sektor riil. Keterkaitan uang dengan kedua variabel tersebut pada dasarnya menunjukkan peranan uang dalam mempengaruhi perkembangan kegiatan ekonomi secara keseluruhan yang tercermin pada perkembangan permintaan agregat (aggregate demand) masyarakat akan semua barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian. Kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa tersebut tentunya harus didukung oleh kapasitas ekonomi, yaitu suatu kondisi yang mencerminkan ketersediaan sumber daya yang mencukupi, seperti bahan baku, tenaga kerja dan teknologi. Dalam ilmu ekonomi makro, kondisi ini dikenal dengan penyediaan atau penawaran agregat (aggregate supply). Berbeda dengan permintaan agregat yang dapat berubah dalam jangka pendek, penawaran agregat relatif lebih sulit untuk berubah dalam jangka pendek. Dalam kaitan ini, perubahan penawaran agregat lebih terkait dengan struktur  dan perkembangan suatu perekonomian.
Idealnya, permintaan agregat harus sama dengan penawaran agregat. Bagaimana apabila tidak? Apabila permintaan agregat tidak sama dengan penawaran agregat maka diperlukan penyesuaian kegiatan ekonomi agar terjadi kesesuaian (keseimbangan) yang pada akhirnya dapat mengakibatkan perubahan harga barang dan jasa. Dalam hal ini, peningkatan permintaan agregat yang melebihi penawaran agregat akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Dengan demikian, mengingat perubahan jumlah uang beredar dapat mempengaruhi perkembangan permintaan agregat, dapat disimpulkan bahwa perubahan jumlah uang beredar dapat mempengaruhi perkembangan harga. Hal ini juga berarti bahwa kecenderungan kenaikan harga umum secara terus-menerus (inflasi) dapat terjadi apabila penambahan jumlah uang beredar melebihi kebutuhan yang sebenarnya. Dapat dinyatakan secara sederhana bahwa: “jumlah uang beredar bertambah, harga barang-barang naik”. Dalam kasus ini, mengingat inflasi sangat dipengaruhi oleh perkembangan uang beredar maka  inflasi dikenal sebagai fenomena moneter.
Dalam kasus lain, inflasi yang tinggi dapat berlangsung dalam waktu yang lama walaupun perkembangan jumlah uang beredar relatif rendah. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Strukturalis yang menyatakan bahwa inflasi dalam jangka panjang lebih disebabkan oleh adanya kekakuan (ketidakelastisan) struktur perekonomian di negara berkembang, terutama pada struktur penerimaan ekspor dan produksi bahan makanan dalam negeri. Dengan demikian, tekanan inflasi akan muncul apabila pertumbuhan sektor ekspor sangat lamban dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya atau pun produksi bahan makanan dalam negeri kurang memadai. Pendapat tersebut menempatkan inflasi sebagai fenomena structural.

D.     Pengendalian Jumlah Uang Beredar
Pengendalian jumlah uang beredar pada hakikatnya merupakan salah satu bagian dari kerangka kebijakan moneter yang dilaksanakan oleh otoritas moneter. Dalam hal ini, sesuai dengan tujuan kebijakan moneter, pengendalian jumlah uang beredar pada umumnya ditujukan untuk menjaga kestabilan nilai uang dan mendorong kegiatan ekonomi. Yang dimaksud dengan pengendalian di sini adalah upaya otoritas moneter baik untuk menambah jumlah uang yang beredar (kebijakan ekspansi moneter) maupun mengurangi jumlah uang yang beredar (kebijakan kontraksi moneter). Pengendalian jumlah uang beredar tersebut juga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam kerangka kebijakan ekonomi makro. Hal ini disebabkan oleh keterkaitan yang erat antara uang dengan variabelvariable ekonomi lainnya, seperti suku bunga, output dan harga. Dengan mengendalikan jumlah uang beredar tersebut, otoritas moneter akan dapat mempengaruhi nilai uang sedemikian rupa sehingga perkembangannya akan mampu mendorong perekonomian ke arah yang diinginkan sesuai dengan sasaran akhir yang ditetapkan, seperti inflasi yang rendah dan atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Bagaimana dengan pengendalian jumlah uang beredar di Indonesia? Sesuai dengan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indonesia merupakan otoritas moneter yang mempunyai tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, antara lain dengan mengendalikan jumlah uang beredar. Dalam pada itu, pengendalian jumlah uang beredar dianggap cukup relevan, khususnya  apabila  dikaitkan dengan arah baru penerapan kebijakan moneter di Indonesia yang menekankan pada pencapaian sasaran tunggal, yaitu kestabilan nilai rupiah (harga).
Sesuai dengan salah satu aspek dalam paradigma kebijakan moneter yang dianut saat ini, yaitu pencapaian target kuantitas, melalui pengendalian jumlah uang beredar kebijakan moneter oleh Bank Indonesia diarahkan untuk mempengaruhi kegiatan perekonomian agar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, yaitu tercapainya kestabilan harga. Dalam pelaksanaannya, pengendalian tersebut tidak dapat dilakukan secara langsung mengingat perkembangan uang beredar sangat terkait dengan perilaku pelaku ekonomi lainnya, yaitu perbankan dan masyarakat. Dalam hal ini, yang dapat dilakukan oleh Bank Indonesia ialah pengendalian jumlah uang primer. Pengendalian jumlah uang primer tersebut dilakukan dengan mengasumsikan bahwa perilaku angka pelipat ganda uang (money multiplier) cukup stabil. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan mengendalikan jumlah uang primer, Bank Indonesia mengendalikan jumlah uang beredar sehingga kegiatan ekonomi dapat diarahkan untuk mencapai  perkembangan harga yang cukup stabil (inflasi yang rendah).
Namun, dalam praktiknya, pengendalian jumlah uang beredar yang optimal sangatlah sulit dilakukan. Paling tidak, terdapat tiga faktor yang menyebabkan sulitnya pengendalian jumlah uang beradar tersebut. Faktor pertama adalah adanya unsur-unsur yang bersifat kontradiktif pada pencapaian sasaran kebijakan. Misalnya, Bank Indonesia melakukan kebijakan ekspansi moneter untuk mendorong kegiatan ekonomi yang sedang lesu. Tindakan ini biasanya mempunyai dampak pada meningkatnya inflasi. Sebaliknya, apabila diambil kebijakan kontraksi moneter untuk meredam laju inflasi tersebut, perkembangan kegiatan ekonomi diperkirakan akan terhambat. Faktor kedua adalah sulitnya memprediksi dan mengendalikan permintaan uang masyarakat. Perilaku permintaan uang masyarakat tergantung pada beberapa motif yang beragam. Sejalan dengan pesatnya perkembangan dan inovasi sektor keuangan dan keterbukaan perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, perilaku tersebut cenderung tidak stabil sehingga sulit untuk diprediksi dan dikendalikan. Faktor ketiga adalah sulitnya memprediksi perilaku angka pelipat ganda uang. Sebagaimana perkembangan permintaan uang, perilaku angka pelipat ganda uang juga cenderung tidak stabil sehingga sulit untuk diprediksi. Kesulitan dan tantangan yang dihadapi Bank Indonesia dalam rangka pengendalian jumlah uang beredar di masa mendatang diperkirakan akan semakin berat dan kompleks. Untuk itu, Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk menjajagi dan mengkaji beberapa kemungkinan penerapan kerangka kerja kebijakan moneter lain yang lebih optimal dalam rangka pencapaian sasaran akhir kebijakan moneter, yaitu stabilitas nilai rupiah.









Daftar Pustaka
Ø  Budiono. Ekonomi Moneter, edisi 3. Yogyakarta: BPFE, 1994.
Ø  Jagdish Handa. Monetary Economics. London: ECAP 4EE, 2002.
Ø  Suseno. Uang Beredar, Materi Pengajaran Interen Bank Indonesia. Jakarta, 2002.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar