Pengantar
Ilmu Komunikasi
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa tidak
berkomunikasi. Komunikasi adalah hal terbesar yang dilakukan manusia dalam
kehidupannya. Baik komunikasi dengan diri sendiri hingga komunikasi melalui
media. Terlebih di zaman sekarang, dimana teknologi komunikasi berkembang
dengan pesatnya.
Komunikasi menjadi tanpa batas, tanpa sekat, dan semua
orang bisa terlibat di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi memang
sangat penting dalam kehidupan manusia dalam rangka menumbuhkembangkan
kepribadian manusia itu sendiri.
Lalu, apakah komunikasi itu? Komunikasi merujuk pada
terjadinya suatu proses yang dilakukan oleh manusia dalam rangka memberikan
respon terhadap perilaku ataupun perlambang yang dilakukan oleh manusia
lainnya. Komunikasi yang dilakukan bertujuan agar terjadi pengertian bersama.
Hal ini sesuai dengan asal kata komunikasi itu sendiri yaitu “communication”
atau “communis” yang berarti sama, yaitu sama dalam hal makna.
Pengantar Komunikasi Menurut Para
Ahli
Komunikasi begitu vital dalam kehidupan manusia.
Untuk itu, cendekiawan ataupun para ahli dari berbagai latar belakang keilmuan
tertarik untuk melakukan penelitan mengenai komunikasi. Sebagian besar para
ahli yang meneliti komunikasi merupakan sarjana psikologi, sosiologi serta
filsafat. Dari berbagai penelitan yang telah mereka lakukan, lahirlah berbagai
macam pengertian komunikasi seperti yang kita kenal sekarang ini.
Berikut adalah beberapa pengertian komunikasi dari para ahli (Rakhmat, 2001
: 3 – 10) :1.Hovland, Janis dan Kelly (1953): “Communication is the process by which an individual (the communicator) transmit stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience)”. Disini dimaksudkan bahwa komunikasi sejatinya adalah proses seseorang yang bertindak sebagai komunikator mengirimkan stimuli atau respon berupa verbal untuk mempengaruhi kepribadian atay sikap seseorang yang bertindak sebagai komunikan.
2. Dance (1970): Komunikasi adalah usaha menimbulkan respons melalui lambing-lambang verbal.
3. Raymond S. Ross (1974): “Communication is a transactional process involving cognitive sorting, selecting, and sharing of symbol in such a way to help another elicit from his own experiences a meaning or responses similar to that intended by the source”. Raymond beranggapan bahwa komunikasi sebuah proses transaksional yang mencakup kegiatan menyeleksi, memilih, dan membagikan makna. Makna – makna tersebut bisa berasal dari pengalaman sendiri, ataupun beberapa sumber lain.
4. Colin Cherry (1964): Komunikasi adalah usaha untuk membuat satuan sosial dari individu dengan menggunakan bahasa atau tanda. Dan juga memiliki serangkaian peraturan untuk berbagai kegiatan mencapai tujuan.
5. Harnack dan Fest (1964): Komunikasi adalah suatu proses interaksi diantara orang-orang untuk tujuan integrasi intrapersonal dan interpersonal.
6. Edwin Neuman (1948): Komunikasi adalah proses untuk mengubah kelompok manusia menjadi kelompok yang berfungsi.
7. Joseph A. Devito: Komunikasi seperti disadur dalam Efendi (1984:7), adalah sebuah tindakan oleh satu orang atau lebih yang mengirimkan dan menerima pesan dengan situasi tertentu. Lalu menghasilkan dampak dan kesempatan untuk menerima pesan. Tindakan komunikasi mencakup beberapa komponen yaitu, situasi, pengirim, penerima, media, hambatan, penerimaan, pemahaman, respon, dan efek.
Dari berbagai pengertian komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli di atas, pengertian dari Joseph A. Devito adalah yang paling lengkap dan luas.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari satu pihak (individu atau kelompok) kepada pihak lain (individu atau kelompok), melalui saluran tertentu ataupun tidak sehingga menimbulkan pengertian bersama untuk mencapai tujuan tertentu.
Sejarah Ilmu Komunikasi
Komunikasi sebagai sebuah ilmu telah dikaji jauh sebelumnya dengan nama Publistik atau Jurnalistik. Para ahli komunikasi sepakat bahwa komunikasi digolongkan ke dalam ilmu sosial dan ilmu terapan. Menurut Effendi (1984 : 4), ilmu komunikasi bersifat lintas disiplin ilmu karena memiliki obyek material yang sama dengan ilmu-ilmu lainnya yaitu manusia.
1. Awal Kemunculan
Jurnalisme sendiri sebagai sebuah ilmu telah berkembang di Amerika Serikat pada sekitar abad-15 yang ditandai dengan diterbitkannya sebuah buku “The Social Order” yang ditulis oleh Robert Bierstedt. Bierstedt menyusun berbagai macam ilmu murni yang terkait dengan ilmu terapan. Dalam susunan tersebut, jurnalistik dimasukkan ke dalam ilmu terapan.
2. Kemunculan Sekolah Jurnalistik
Di tahun 1903, Joseph Pulitzer seorang tokoh pers, berharap adanya sekolah jurnalistik yang diperuntukkan bagi para wartawan agar dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang jurnalistik. Ide ini kemudian ditindaklanjuti oleh dua orang rektor dari dua universitas kenamaan di AS yaitu Charles Elliot (Harvard University) dan Nicholas Murray (Columbia University).
Karena, dalam perkembangannya, jurnalistik tidak hanya fokus pada surat kabar semata melainkan radio dan televisi termasuk juga didalamnya. Selain berita, radio dan televisi juga menyiarkan berbagai program siaran lain. Dari sinilah jurnalisme berkembang menjadi komunikasi massa.
Para ahli berpendapat bahwa istilah komunikasi massa dirasa lagi tidak tepat jika dilihat dari dampak yang ditimbulkan. Komunikasi massa bukanlah proses komunikasi yang holistik sehingga tidak dapat menjelaskan proses komunikasi yang begitu kompleks.
Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli yang menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan sebagai dampak media massa berlangsung dalam dua tahap bukan satu tahap. Pengambilan keputusan ini sebagian besar dilakukan oleh komunikan melalui komunikasi antar persona dan komunikasi kelompok.
3. Lahirnya Komunikasi
Berdasarkan hasil penelitian itulah, ilmu komunikasi hadir guna mempelajari berbagai macam gejala sosial yang timbul sebagai akibat dari proses komunikasi massa, komunikasi antar personal dan komunikasi kelompok. Ilmu Komunikasi yang di AS disebut dengan Communication Science atau Communicology telah menjadi perhatian di AS sejak tahun 1940an bertepatan dengan dikemukakannya pengertian ilmu komunikasi oleh Carl I. Hovland.
Carl I. Hovland (1940), mengungkapkan bahwa studi ilmu komunikasi adalah suatu sistem yang mencoba merumuskan komunikasi dalam mode ketat terkait prinsip – prinsip informasi. Tujuan dari sistem tersebut adalah agar supaya informasi dapat ditransmisikan dengan bentuk bentuk yang teratur.
Kemudian, Keith Brooks dalam buku “The Communicative Arts And Science of Speech” (1967) mengatakan bahwa banyak sarjana komunikasi di berbagai disiplin ilmu telah berkontribusi untuk memberikan pemahaman terkait proses dasar komunikasi. Seperti jenis dan bentuk kegiatan komunikasi.
Studi ilmu komunikasi juga berkaitan dengan prinsip – prinsip komunikasi dari para sarjana ini. Dan juga, ini berkaitan erat dengan filosofis realisitis komunikasi. Dimana terdapat program penelitian sistematis yang menguji keabsahan teori, melengkapi kesenjangan pengetahuan, dan menafsirkan, serta menvalidasi temuan dalam disiplin khusus. Ini menyediakan ruang yang luas tetapi tidak membatasi diri pada kepentingan akademik lain. (Efendi, 1984:6)
Hakikat Ilmu Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang bertujuan untuk membentuk kesamaan makna. Komunikasi dapat tumbuh dan berkembang karena disokong oleh berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, politik, ekonomi, mekanika dan lain sebagainya.
Dengan demikian, definisi atau pengertian komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli pun sangat beragam karena dilatarbelakangi oleh kelimuan yang dimiliki. Hampir tidak ada definisi atau pengertian komunikasi yang benar-benar pakem atau komprehensif. Keberagaman definisi atau pengertian komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli tersebut menunjukkan bahwa komunikasi adalah konsep yang kaya makna.
Adapun makna komunikasi yang tercermin dari definisi atau pengertian komunikasi tersebut dapat dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu
1. Komunikasi sebagai proses sosial
Komunikasi adalah proses sosial yang fundamental.
Oleh sebab itu, ketika kita mempelajari komunikasi sejatinya kita mencoba untuk
meneliti lebih dalam mengenai sesuatu yang menjadi pondasi bagi semua hubungan
antar manusia serta perubahan sosial (Kincaid dan Scramm dalam Suryana, 2004).
Berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli dengan fokus penelitian pada
aktifitas manusia serta hubungan pesan dengan perilaku.
2. Komunikasi sebagai peristiwa
Ketika manusia berinteraksi dengan manusia
lainnya, maka terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa tersebut dinamakan
peristiwa sosial. Interaksi sosial dapat terjadi hanya jika ada kontak dan
komunikasi. Sebagai suatu fenomena, komunikasi dapat dipahami melalui
bentuk komunikasi dan sifat komunikasi. Bentuk komunikasi meliputi komunikasi
personal (komunikasi intrapersonal dan komunikasi interpersonal), komunikasi
kelompok (komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar), serta
komunikasi massa.
Sedangkan sifat komunikasi meliputi komunikasi tatap muka (face to face),
komunikasi bermedia (mediated), verbal (tulisan, lisan, tercetak) dan non
verbal (kial, bergambar).3. Komunikasi sebagai ilmu
Komunikasi adalah ilmu (science) karena ilmu
komunikasi berkembang dengan menggunakan metode ilmiah. Para ilmuwan yang
mengembangkan komunikasi sebagai ilmu menggunakan pendekatan ilmiah berdasarkan
latar belakang keilmuan yang dimiliki. Dalam bekerjanya, ilmu komunikasi
selalui berlandaskan pada fakta, pertimbangan obyektif, asas analitik, sifat
kuantitatif, logika deduktif-hipotetik dan logika induktif-generalisasi.
Selain berkembang dengan menggunakan metode ilmiah, komunikasi juga memenuhi
persyaratan sebagai suatu ilmu. Adapun syarat-syarat suatu ilmu adalah memiliki
obyek formal dan obyek material yaitu memiliki bentuk pernyataan dan memiliki
keragaman proposisi.Sebagai suatu ilmu, komunikasi memiliki beberapa karakteristik, yaitu sistematis, universal, rasionalitas, obyektifitas, verifiabilitas dan communality.
4. Komunikasi sebagai keterampilan
Komunikasi sebagai suatu proses penyampaian pesan
tentunya memiliki tujuan. Tujuan komunikasi pada umumnya adalah untuk mengubah
pengetahuan, sikap, opini, keterampikan serta perilaku. Agar terjadi komunkasi
yang efektif maka komunikator harus memiliki kemampuan atau keterampilan
berkomunikasi yang diperlukan. Tidak hanya bahasa verbal namun bahasa non
verbal pun harus dikuasai. Kemampuan berkomunikasi atau communication skill sangat
penting dalam rangka berinteraksi dengan orang lain.
Keterampilan berkomunikasi dapat membantu kita untuk meningkatkan kemampuan
dalam berpikir kritis, melakukan pemecahan masalah, mengatasi konflik,
membangun sebuah tim, literasi media, dan public speaking. Berbagai macam
kemampuan atau keterampilan komunikasi inilah yang sangat berguna dalam rangka
berinteraksi dengan orang lain maupun dalam dunia kerja.Karakter Komunikasi
Dari berbagai pengertian komunikasi yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya, dapat ditarik benang merah berupa karakteristik yang melekat pada komunikasi itu sendiri. Secara garis besar, komunikasi memiliki tiga karakteristik utama, yaitu :
- Komunikasi adalah manusia itu sendiri
- Komunikasi adalah sebuah proses
- Komunikasi bersifat simbolis
Fungsi Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator yang bertujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap, opini, keterampilan dan perilaku komunikan. Komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila dampak yang terjadi pada komunikan sesuai dengan tujuan komunikasi yang diinginkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi memiliki fungsi-fungsi yang berguna untuk menunjang tujuan komunikasi.
Secara umum, komunikasi memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah :
1. Menyiarkan informasi: Komunikasi berfungsi untuk menyiarkan informasi yang dibutuhkan oleh komunikan dengan harapan komunikan dapat mengambil keputusan yang tepat setelah menerima informasi yang disampaikan.
2. Mendidik: Komunikasi berfungsi mendidik apabila pesan yang diterima oleh komunikan berdampak pada peningkatan pengetahuan komunikan.
3. Menghibur: Komunikasi berfungsi menghibur manakala pesan yang disampaikan kepada komunikan ditujukan untuk rekreasi atau kesenangan bagi komunikan.
4. Mempengaruhi: Komunikasi berfungsi mempengaruhi komunikan manakala pesan yang disampaikan kepada komunikan memberikan efek yang diharapkan.
Proses Komunikasi
Ketika mendefinisikan komunikasi, perlu dipahami bahwa pengertian terminologi komunikasi tidaklah seragam dan berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut tergantung pada konteksnya.
Untuk memahami komunikasi sebagai suatu proses, kita harus menyadari bahwa komunikasi terdiri dari berbagai mekanisme ataupun fenomena yang dibentuk dari berbagai elemen yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Dimana kemudian, masing-masing elemen memberikan semacam output. Elemen-elemen inilah yang secara bersama-sama membentuk suatu proses.
Secara sederhana, dalam suatu proses komunikasi terdapat 3 (tiga) elemen yaitu komunikator, pesan, dan komunikan. Namun dalam suatu proses komunikasi yang lebih luas, terdapat 6 (enam) elemen proses komunikasi. Elemen-elemen proses komunikasi tersebut adalah :
1. Sumber (Source)
Adalah dasar yang nantinya dipakai dalam proses penyampaian pesan. Yang dapat dijadikan sumber adalah orang, organisasi, atau bahan literatur dan lain sebagainya. Kredibilitas sumber benar-benar harus diperhatikan agar pesan yang disampaikan nantinya juga memiliki validitas.
2. Komunikator (Communicator)
Adalah individu atau kelompok yang mengirim pesan. Komunikatorlah yang memulai terjadinya proses komunikasi. Kredibilitas komunikator juga perlu diperhatikan. Karena “siapa” lebih penting dari “apa” yang disampaikan. Misalnya, ketika akan berbicara mengenai penyakit mata maka dokter mata adalah pihak yang kredibel untuk menjelaskan mengenai penyakit mata. Intinya, komunikator disesuaikan dengan isi pesan.
3. Pesan (Message)
Pesan adalah elemen terpenting dalam suatu proses komunikasi. Pesan adalah informasi yang akan dikirim oleh komunikator kepada komunikan. Pesan yang disampaikan dapat dilakukan secara langsung (face to face) maupun melalui media atau saluran tertentu. Pesan yang disampaikan secara langsung dapat berupa pesan yang sifatnya informatif, persuasif atau koersif.
Disebut informatif apabila pesan tersebut menyajikan berbagai keterangan yang didukung dengan fakta dan data yang valid. Pesan yang sifatnya informatif cenderung lebih mudah diterima oleh komunikan yang intelektual. Sedangkan, suatu pesan disebut persusif manakala pesan tersebut berisi ajakan atau bujukan untuk membangkitkan kesadaran komunikan. Terakhir, suatu pesan disebut koersif seandainya pesan tersebut bersifat memaksa yang disertai dengan sanksi.
4. Saluran (Channel)
Channel atau saluran adalah “jalan” dimana pesan tersebut akan dikirimkan dan biasanya dikenal dengan sebutan media. Dalam komunikasi terdapat dua media komunikasi yang digunakan dalam proses komunikasi yaitu media umum (telepon, radio CB, OHP dan lain-lain) dan media massa (pers, radio, film, televisi)
5. Komunikan (Receiver/Communicant/Communicatee)
Receiver/communicant/communicatee atau komunikan adalah target penyampaian pesan. Terdapat 3 macam komunikan yaitu orang per orang, kelompok, dan massa. Hal-hal yang harus diperhatikan tentang komunikan dalam suatu proses penyampaian pesan adalah keanggotaan kelompok, proses seleksi, dan kecenderungan.
Komunikan terdiri dari orang per orang yang merupakan anggota dari kelompok tertentu yang terikat dengan segala macam pendirian yang dianut. Biasanya jika suatu pesan yang disampaikan berbenturan dengan pendirian yang dianut, maka akan terjadi penolakan. Orang cenderung untuk memilih sesuatu yang sesuai dengan pendirian yang dimiliki. Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan kepada komunikan hendaknya disesuaikan dengan situasi serta kondisi komunikan.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah kerangka pengetahuan (frame of reference) dan cakupan pengalaman (field of experience) yang dimiliki oleh komunikan. Pesan yang dikemas dan disampaikan kepada komunikan harus disesuaikan dengan kerangka pengetahuan serta cakupan pengalaman yang dimiliki oleh komunikan agar komunikasi yang dilancarkan menemui keberhasilan.
6. Efek (Effect)
Efek atau dampak komunikasi adalah dampak yang dihasilkan dari adanya proses komunkasi. Dampak ini bisa berupa terjadinya perubahan pengetahuan, sikap atau perilaku. Bila efek komunikasi sesuai dengan yang diharapkan maka komunikasi dapat dikatakan berhasil. Tetapi apabila tidak, maka komunikasi tersebut mengalami kegagalan.
Pada umumnya, untuk menggambarkan suatu proses komunikasi digunakan sebuah model komunikasi agar mudah dipahami.
Tingkatan Proses Komunikasi
Menurut Dennis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (1987 : 6-7), tingkatan proses komunikasi merujuk pada tingkatan organisasi sosial dimana komunikasi tersebut terjadi. Setiap tingkatan meliputi berbagai permasalahan, serangkaian kenyataan dan teori masing-masing. Dalam masyarakat, terdapat enam tingkatan proses komunikasi, yaitu :
- Intrapersonal
- Interpersonal
- Intragroup atau Dalam Kelompok
- Intergroup atau Antar Kelompok atau Asosiasi
- Organisasi atau Institusi
- Komunikasi Massa
Etimologi Komunikasi
Person, et.al (2000 : 10) dalam buku Human Communication, menyatakan bahwa komunikasi berasal dari kata “communicare” yang memiliki arti “untuk membuat kesamaan” atau “untuk berbagi”. Dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan maksud tercapainya kesamaan makna. Pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat berupa bahasa baik bahasa verbal maupun non verbal.
Komunikasi Sebagai Ilmu Sosial
Komunikasi sebagai bidang studi ilmu sosial harus memenuhi beberapa kriteria tertentu. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Departemen Komunikasi Univeritas Hawaii, kriteria yang dimaksud adalah berlandaskan teori, analisis kuantitatif atau empiris, dan memiliki tradisi yang diakui.
Pemahaman mengenai dasar komunikasi, teori komunikasi, struktur komunikasi serta perkembangan strategi komunikasi untuk tujuan sosial berikutnya sangat diperlukan guna membuktikan bahwa komunikasi adalah sebuah ilmu.
Ilmu komunikasi adalah ilmu sosial yang didalamnya mencakup komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi massa, komunikasi antar budaya, dan lain-lain.
Manfaat Mempelajari Ilmu Komunikasi
Komunikasi memegang peranan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Karena itu mempelajari teori komunikasi maupun penerapannya sangatlah penting. Komunikasi yang efektif dapat membantu kita untuk mengatasi permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan profesional dan memperbaiki hubungan antar manusia.
Para ahli meyakini bahwa akar dari berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan kita adalah karena buruknya komunikasi. Komunikasi yang efektif adalah solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut dan bahkan dapat mencegah permasalahan yang timbul. Untuk itu, kita sangat perlu mempelajari komunikasi secara komprehensif karena sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.
Person, et.al dalam bukunya Human Communication (2000) menyatakan, setidaknya terdapat 7 (tujuh) manfaat yang akan kita peroleh dengan mempelajari komunikasi, yaitu :
1. Memperbaiki cara pandang terhadap diri sendiri
Mempelajari komunikasi membuat kita belajar untuk lebih mengenal diri sendiri. Proses pembelajaran ini dapat kita peroleh melalui komunikasi intrapersonal maupun berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengetahui bagaimana komunikasi memberikan efek terhadap persepsi mengenai diri sendiri, dapat menuntun kita untuk lebih bisa menghargai diri sendiri.
Selain itu, mempelajari keterampilan berkomunikasi juga dapat memperbaiki cara pandang kita terhadap diri kita sendiri. Berbagai studi menunjukkan bahwa komunikasi yang secara efektif dilakukan dalam berbagai situasi dapat membantu pembentukan kepercayaan diri.
Dengan kata lain, keberhasilan kita dalam melakukan interaksi dengan oran lain dalam berbagai situasi sosial dan pencapaian kita dalam dunia professional akan dapat menuntun kita pada perasaan yang positif terhadap diri sendiri.
2. Memperbaiki cara pandang orang lain terhadap diri
Pada umumnya, setiap orang lebih menyukai berkomunikasi dengan orang lain yang dapat juga berkomunikasi dengan baik. Apabila kita berkomunikasi dengan orang yang memiliki kompetensi, maka kita juga akan tergerak untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Semakin kita dipandang memiliki kompetensi yang mumpuni, maka orang lain pun akan datang untuk berinteraksi dengan kita.
3. Meningkatkan pengetahuan mengenai hubungan antar manusia
Komunikasi tidak hanya mempelajari tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun hubungan dengan orang lain dan jenis komunikasi yang sesuai dengan situasi yang ada. Melalui hubungan antar manusia seperti pertemanan, hubungan keluarga, dan hubungan dalam suatu komunitas, kita belajar tentang kepercayaan, kedekatan, dan hubungan timbal-balik.
4. Mengajarkan keterampilan yang penting dalam kehidupan
Mempelajari komunikasi adalah mempelajari berbagai macam keterampilan yang akan digunakan oleh setiap orang dalam satu fase dalam kehidupannya. Keterampilan itu adalah kemampuan dalam berpikir kritis, kemampuan dalam melakukan pemecahan masalah, kemampuan dalam mengatasi konflik, kemampuan dalam membangun sebuah tim, kemampuan dalam literasi media, dan public speaking.
5. Membantu kita untuk melatih kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi
Di beberapa negara demokrasi, tak terkecuali Indonesia, kebebasan memperoleh informasi, kebebasan berpendapat dan kebebasan berbicara di depan umum dijamin dan diatur oleh konstitusi. Dengan derasnya arus informasi yang ada, kita dapat mengetahui berbagai macam isu hangat yang sedang terjadi dan kita dapat membahasnya dengan orang lain. Tidak hanya itu, kita juga dapat mendiskusikannya dalam suatu forum terbuka atau pun melalui media massa. Kita juga dapat mengkritisi berbagai informasi atau pesan yang kia peroleh dari orang lain.
6. Membantu kita meraih kesuksesan secara professional
Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan komunikasi, kita akan dapat meraih berbagai macam pekerjaan yang diinginkan. Beberapa profesi memerlukan keterampilan berkomunikasi misalnya public relation (oral communication).
7. Membantu kita untuk meningkatkan kemampuan berbahasa
Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah lokal dapat membantu kita berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda bahasa dan budaya. Apabila hal ini ditopang dengan pemahaman konsep-konsep komunikasi dasar dan menerapkannya dalam interaksi kita dengan orang lain yang berbeda bahasa dan budaya, maka kemampuan berbahasa kita dengan sendirinya dapat berkembang.
Demikianlah gambaran singkat mengenai pengantar ilmu komunikasi yang dirangkum dari beberapa sumber. Semoga dengan memahami pengantar ilmu komunikasi dapat memperkaya wawasan mengenai ilmu komunikasi.
Daftar
Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar